Aku, bukan siapa yang kamu cari.

Minggu, 18 September 2016

Senja


Langit senja tak pernah berubah, indah namun menyakitkan.

Sampai saat ini si penulis senja juga masih setia menjadi pengagumnya.
Karna si penulis senja tahu bahwa senja takkan pernah berubah.

Meski waktu mengurungnya,
Meski langit mendung kadang menyelimutinya.
Tapi si penulis senja ini selalu yakin bahwa dibelahan dunia lain, entah dimana. Senja itu masih sama.

Dia tak pernah berubah.
Hanya saja harapan selalu lebih kuat dari rasa kagumnya.

Senja tak pernah hilang.
Dia hanya bersembunyi, membiarkan malam yang indah dengan bintang – bintang dan rembulan menghiasi panggungnya.

Senja selalu indah tanpa hujan.
Mungkin ia selalu punya maksud, tapi tak tersampaikan karna durasinya.

Oh.. senja..

Mantera apa yang kau tawarkan pada si penulis bodoh ini ?

Kenapa selalu saja engkau yang dinantinya ?

Bukannya masih ada fajar, tapi kembalinya untuk senja.

Dia mencintai senja lebih dari dia mencintai tinta pada penanya.

Si penulis senja ini selalu duduk disudut balcon kamarnya saat senja datang.

Tak sedetikpun ia beranjak dari tempat duduknya
Dan mulai menulis semua rasa kekagumannya pada senja.

Senja dan imajinasi dikepalanya mulai berkolaborasi, tangannya menuliskan kalimat puitis tentang cinta.

Benar, cinta dan penantian ada pada senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar